Minggu, 24 Februari 2013

khotbah di tempt pelayanan


Teks     : Matius 7 :24 – 27
Tema   : Murid Sebagai pelaku Perkataan Yesus

           
Jemaat yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus, jika kita ditanya sudah berapa kalikah kita mendengarkan khotbah sampai saat ini, yah mungkin 100, 200 atau mungkin 1000, tapi pertanyaan selanjutnya, dari seribu khotbah yang telah kita dengar sampai saat ini, berapa khotbah yang saat ini masih kita ingat, 500, 100, ataw heem terlalu besar, yah 10, 9, 8 ataw hanya khotbah minggu kemarin yang kita ingat.... saudara-saudari dari penelitian yang saya lihat ternyata, hampir sama sekali kita jarang bahkan malah lupa setiap khotbah yang telah kita dengar, ehmm menurut saya, tidak apa-apa tetapi jika ditanya lagi, berapa khotbah yang telah mengubah saudara itu baru luar biasa, yah kalo hanya mengingat gak apa-apalah luppa, tapi apakah kita telah diubah ataw tidak melalui  setiap khotbah itu, itulah yang penting?...
 Isi
            Jemaat yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus, Fokus pembacaan kita pada hari ini di dalam perumpamaan adalah dua orang yang membangun rumah, bukan pada dua macam dasar rumah atau pada tipe rumah yang dibangun atau dua keadaan akhir rumah. Karena menurut saya yang penting ialah dua orangnya dua karakternya ataw dua pribadinya, karena yang membangun itu jelas adalah pribadi-pribadinya, oleh karena itu kita akan belajar dari dua karakter ataw pribadi dua orang tersebut dan inilah sebenarnya kunci untuk mengerti setiap perumpamaan Yesus.
Di dalam perumpamaan dijumpai dua karakter pembangun rumah. Pembangun rumah pertama menyadari bahwa penetapan fondasi menentukan masa depan rumah. Orang itu mendirikan rumahnya di atas batu karena menyadari akan datangnya hujan, banjir dan angin. Oleh karena itu Membuat keputusan untuk membangun rumah di atas batu merupakan keputusan tepat. Karakter pembangun rumah pertama disebut bijaksana karena menyadari masa depan rumah yang dibangunnya ditentukan dari sekarang. Pembangun rumah pertama dikatakan bijaksana karena melihat jauh ke depan dan tidak terbatas pada keadaan masa kini. Mungkin keadaan masa kini aman-aman saja. Namun ia dapat melihat buhkan keadaan masa kini saja, tetapi masa depan. Dan terbukti Kebijaksanaannya terlihat saat ia mampu mengantisipasi datangnya berbagai bencana yang akan melanda rumahnya. Hal-hal yang akan menghancurkan rumah sudah diperhitungkan sejak awal ia membangun rumah. Fondasi rumah yang dipilih sekarang menentukan akhir sejarah rumah yang dibangun. Fondasi rumah yang kukuh mampu memberi respons tepat ketika datang hujan dan badai. Rumah mampu bertahan menghadapi hujan, banjir dan angin dan berdiri teguh karena fondasi yang kuat mampu mendukung beban berat yang ditimbulkannya. Inilah alasan mengapa pembangun pertama memilih fondasi batu untuk dasar rumahnya. Artinya ialah Karakter bijaksana membangun rumahnya di atas fondasi batu untuk mengantisipasi datangnya krisis. Ia tidak hanya melihat ke depan tetapi melihat bencana di masa depan.

Berbeda dengan karakter pertama, karakter kedua membangun rumahnya di atas pasir. Pembangun rumah kedua tidak merasa perlu membangun rumah di atas batu karena tidak merasa perlu memperhitungkan adanya bencana. Penglihatannya terbatas pada masa pembangunan rumah saja. Ia tidak melihat perlunya persiapan menghadapi bencana. Datangnya hujan, badai dan angin dianggap sepi. Ia tidak merasa perlu melakukan persiapan menghadapi krisis. Ia tidak memilih fondasi batu tetapi fondasi pasir. Memang benar ketika suasana biasa-biasa saja rumah itu teguh berdiri. Karakter kedua membangun rumah diatas fondasi pasir. Fondasi ringkih akan menghancurkan rumah saat diterpa hujan, badai dan angin. Inilah mengapa karakter kedua disebut bodoh. Ia bodoh bukan karena memilih pasir sebagai pondasi rumah. Tanpa hujan, badan dan angin kedua rumah tegak berdiri.Karakter keduadisebut bodoh karena ia menutup mata terhadap datangnya krisis di masa depan.Ia tidak mengantisipasi datangnya masa depan.
 Jemaat Tuhan, kita dapat melihat Karakter-karakter dalam perumpamaan pembangun rumah yang disebut orang bijaksana atau orang bodoh karena perbedaan melihat masa depan. Orang yang bijaksana membangun di atas batu, sedang yang bodoh membangun diatas pasir. Perbedaan dasar keduanya baru terungkap ketika bencana melanda masing-masing rumah yang dibangun. Disamping perbedaan antara karakter bodoh dan bijak, persamaan keduanya juga terlihat. Mereka sama-sama membangun rumah. Nampaknya kualitas bangunan keduanya tidak berbeda. Kedua rumah berdiri tegak sampai hujan, badai dan angin datang menerpa kedua rumah. Rumah orang bodoh hancur disebabkan fondasinya. Rumah orang bijaksana tetap teguh. Bijaksana karena memperhitungkan adanya bencana di masa depan. Bijaksana karena memersiapkan diri menghadapi bencana dan bodoh karena mengabaikan kemungkinan adanya bencana.
 Kira-kira- jika saya bertanya kepada setiap kita, karakter manakah yang saudara pilih, atau karakter manakah yang kita miliki, tentu dari beberapa kita ada yang ahli bangunan, sehingga ia pasti tahu karakter mana yang benar. Jemaat yang terkasih, mengikut Tuhan bukanlah sesuatu yang mudah, barang siapa yang mau mengikut Aku ia harus memikul salibku.... Tuhan tidak menjanjikan sukacita didunia ini, tetapi ia memberikan anda dan saya hadia yang begitu mulia, yaitu salib. Setiap orang yang mau memikul salib ialah mereka yang mau melakukan Firman itu di dalam hidupnya sehari-hari. Baik pada saat kita bekerja dan berusaha, lakukan lah firman itu..jangan sampai kesibukan kita, baik itu ke ladang, ngederes karet, atau yang lainnya membuat kita lupa dengan firman Tuhan, maka jelas jika kita sampai lupa Tuhan, yang kita kerjakan ialah untuk kepuasaan diri kita sendiri dan mamon, yaitu harta yang menguasai kita. Firman Tuhan berkata “ dimata harta mu berada disitu juga hatimu berada” inilah yang terjadi jika hati kita telah dikuasai mamon sehingga, kita melakukan hal-hal yang tidak berkenan lagi kepada Tuhan. Walaupun nanti kita dapat harta yang melimpah tapi jelas, kita tdak akan memiliki kebahagiaan. Kebahagiaan yang sejati hanya ada di dalam firman Tuhan yang kita baca, renungkan dan lakukan. Amiiin
Artinya ialah  Mendengarkan khotbah Yesus menuntut suatu jawaban dalam bentuk tindakan nyata. Khotbah Yesus bukan untuk didengar saja, tetapi terutama untuk dilakukan dalam kehidupan di dunia. Perkataan Yesus yang didengar harus diterjemahkan ke dalam bentuk perbuatan sehari-hari. .Ini juga respons yang diharapkan muncul dalam hidup murid Yesus setelah mendengar khotbah-Nya. Hanya dengan melakukan perkataan Yesus seorang murid dapat mengarungi bahtera kehidupan dengan selamat dan bahagia. PerkataanYesus harus  di ubah menjadi perbuatan. Perubahan  perkataan menjadi perbuatan bagaikan perahu yang membawa murid Yesus melintasi ganasnya gelombang samudera kehidupan raya menuju pelabuhan kehidupan yang berhasil dan sukacita.Jika perkataan tidak diubah menjadi perbuatan, maka manusia akan tenggelam dihempas badai topan kehidupan.Perumpamaan pembangun rumah pada akhir Khotbah Yesus di bukit menggoreskan pesan bahwa pelaku perkataan Yesus akan bertahan menghadapi gelombang kehidupan dalam perjalanannya mengikut Yesus karena ia berdiri pada pondasi yang teguh. Ia teguh berdiri karena tempatnya berpijak tidak lain adalah hidup yang melakukan perkataan Yesus. Tentunya hal ini tidak mudah, bagaimana kita bisa melakukan perkataan Yesus, sungguh sulit bukan, apakah saya dapat memaafkan dia, apakah saya harus jujur kepadanya, apakah saya tidak boleh mendendam, apakah saya tidak boleh marah...jemaat Tuhan, ini Sungguh sangat sulit namun jika kita mau terus mencoba dan berlatih maka kita akan bisa melakukan perkataan Yesus.. Sama seperti kehidupan manusia lainnya, latihan menjadi kunci keberhasilan. Atlit yang ingin sukses meraih medali emas atau memecahkan rekor dunia harus berlatih keras. Musisi yang handal lahir melalui latihan keras yang dijalaninya. Demikian juga halnya dengan kehidupan rohani. Latihan rohani yang terus menerus membawa seseorang ke tingkat spiritualitas atau tingkat kerohanian yang lebih dalam. Itu karena ia terus membagi waktu untuk membaca dan merenungkan Firman Tuhan itu, sehingga ia dapat melakukannya. Saudara –saudari, salah seorang tokoh terbesar Hindu yang berasal dari India, Mahatma Gandhi, dia merupakan seorang tokoh yang turut melahirkan agama hindu, beberapa waktu sebelum ia meninggal, ia sempat di panggil untuk memberikan ceramah di sebuah universitas nomor satu di amerika. Yaitu OXFOR, setelah selesai ceramah, ia di tanya oleh seorang mahasiswa, ia bertanya “ Bapak Gandi, kenapa hampir seluruh ajaran anda, anda memakai khotbah di bukit sebagai dasar ajaran anda...... ia langsung terdiam sesaat.... lalu ia kembali melihat seorang mahasiswa itu dan berkata...”untuk menjadi pengikut Kristus...saya tidak perlu menjadi Kristen.... saudara  kenapa dia berkata seperti itu, memang dia adalah pengikut Kristus, namun ia kecewa dengan orang – orang Kristen Inggris yang menjajah pada saat itu di India, dia tidak di ijinkan masuk ke gereja hanya karena ia miskin, sejak itu ia benci dengan orang Kristen, namun ia di akhir hidupnya pada saat ia meninggal, ia menyanyi sebuah lagu bahwa ia tetap setia untuk mengikut Kristus sampai mati! Saudara kita memang berkata bahwa kita adalah orang Kristen, tapi pertanyaannya adalah hidup kita sudah sesuaikah dengan kata Kristen itu, kata Kristen itu berarti pengikut Kristus, di dalam ayat yang sebelumnya berkata ayat 21. “ Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku, Tuhan, Tuhan! Akan masuk ke dalam kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga! Jadi saudaraku, lakukanlah firman Tuhan maka saudara akan memperoleh sukacita dan kedamaian di dunia ini, bahkan anda akan turut masuk ke dalam kerajaan Sorga. Tuhan Yesus memberkati.Soli Deo Gloria... Aminnn




Teladan Ketaatan Kristus kepada para Murid-Nya
(Matius 17:22-27)
 Khotbah di KAMPUS STT

Pendahuluan
            Saudara-saudarayang terkasih, saya yakin beberapa  kita di tempat ini pasti pernah nonton sebuah film berjudul SKY of LOVE atau juga  A Moment do Remember, ?.. ternyata  film ini sangat menyentuh hati saya. cerita film ini cukup sederhana namun pesan dari film ini cukup mendalam, bahwa waktu untuk hidup dari salah satu pasangan kekasih mereka hanya singkat dikarenakan sakit yang di alami oleh salah satu pasangan. Namun mereka dapat mengisi sisa kebersamaan mereka dengan cinta yang sejati dan tulus, sehingga cinta itu menjadikan cinta mereka menjadi cinta yang abadi. Menarik sekali....
Isi
            Di dalam teks ini ada dua hal yang menjadi teladan Kristus untuk kita pelajari dari dari karakternya, teladan yang pertama dari karakter Kristus ialah taat atas situasi yang akan di alaminya  (22-23). Dalam ayat ini terlihat bahwa Yesus tahu akan apa yang di alaminya, penderitaan, penganiyayaan dan juga kematian yang akan di hadapinya, namun di masa-masa  menjelang penderitaan dan kematianNya, Ia tetap tegar, tetap fokus untuk mengisi sisa-sisa hidupNya yang berharga memberikan teladan dan pengajaran  kepada  murid-muridNya, Dia tahu bahwa waktuNya sangat terbatas dengan para Muridnya, oleh karena itu perkataan yang di ucapkanNya sebenarnya sebagai penguatan bagi diriNya dan semangat untuk mengisi sisa-sisa waktunya bersama dengan para muridNya. Demikian juga dengan para muridNya, mendengar perkataan itu mereka menjadi sedih. Mereka tahu bahwa waktu bersama dengan Kristus hanya sementara. Oleh karena itu perkataan Kristus mengingatkan mereka dan menyadarkan  mereka agar mereka dapat sungguh-sungguh mengikutNya, sehingga iman mereka kuat, tidak seperti dalam peristiwa di teks sebelumnya yang diminta untuk menyembuhkan seorang anak muda yang sakit ayan namun mereka tidak mampu itu dikarenakan karena mereka tidak sungguh-sungguh. Dan  teladanyang kedua dari karakter Kristus ialah taat pada peraturan yang telah di tetapkan (24-27). Biasanya peraturan di buat untuk di.. langgar, namun sebenarnya  dan memang benar peraturan dibuat agar kita tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik, mana yang benar dan mana yang tidak benar, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh,  mana yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat, mana yang berguna dan mana yang tidak berguna. Di dalam teks ini, terlihat ketika Yesus di perhadapkan dengan peraturan yang telah dibuat. Yaitu tentang membayar bea/pajak bagi Bait Allah. peraturannya ialah bagi setiap warga Yahudi yang sudah umur 20 tahun keatas di wajibkan untuk membayar bea setiap tahun / setahun sekali  bagi pemeliharaan Bait Allah, ini merupakan kebanggaan orang Yahudi ketika mereka membayar bea. Ini juga sama dengan kita, jika kita sudah dewasa dan memiliki pekerjaan, pasti kita akan membayar persepuluhan bagi gereja. Dan biasanya kita senang dapat memberi kepada gereja. Tuhan Yesus pun begitu, Ia tidak memamerkan diri kalau Ia adalah Allah pemilik Rumah itu, namun Ia ingin menunjukkan bahwa Ia pun taat pada peraturan itu dan membayarnya. Suatu sikap yang baik, yang sebenarnya harus ditiru oleh kita. Jika kita sudah kerja wajib bagi kita untuk memberi juga kepada gereja, karena dengan memberikan bea/ persepuluhan akan membantu pemeliharaan Bait Allah atau gereja dan juga untuk membantu pelayanan Kristus di dunia ini. Jangan sampai berkat yang kita terima bagi kebutuhan hidup kita saja dan memperkaya diri. Sehingga kita akan mendapatkan sakit penyakit dan yang lainnya. saudaraku, Kristus taat pada peraturan, selama di dunia ini, Ia tidak pernah lalai mematuhinya. Ia katakan, apa yang menjadi milik kaisar berikanlah kepada kaisar, dan kepada Tuhan, berikanlah kepada Tuhan. Taat pada peraturan di dunia ini dan juga taat pada Tuhan. Nah bagaimana dengan kita?.....
Aplikasi
            Dua teladan ini yang sebenarnya Kristus ajarkan di dalam teks ini bagi kita, yang pertama, Ia ingin agar kita tetap kuat di dalam menghadapi setiap pergumulan yang mungkin sangat memberatkan kita. Tidak peduli seberapa besar tantangan yang kita harus hadapi, mungkin tunggakan bayaran  setahun , dua tahun, hingga kita berpikir pasti dikeluarkan, namun yakinlah bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita. Ia tahu bahwa Ia harus mengalami penderitaan dan penganiyayaan bahkan kematian “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuhNya”. Namun Ia tetap taat dan berusaha mengisi sisa hidupNya  dan menggunakan dengan sebaiknya. Bagaimana dengan kita, saya dan saudara, sudahkah kita mengisi sisa hidup kita dengan baik, apakah kita telah memakai waktu yang singkat di Kampus ini dengan baik. Waktu 5 tahun amatlah singkat, namun waktu yang singkat di tempat ini akan menentukan kedepan jadi apakah kita nanti, di tentukan selama kita di tempat ini. Tuhan Yesus tahu waktuNya hanya sebentar, namun waktu yang singkat 3 setengah tahun bersama dengan para muridNya tidak sia-sia, akhirnya Injil dapat tersebar sampai di tempat ini.  demikian juga dengan kita, jika kita sungguh-sungguh mau taat menggunakan waktu kita di sini, Tuhan akan memakai kita menjadi berkat, menjadi alat-Nya dimanapun. Dan yang kedua, teladan Kristus, ialah ketaatanNya pada peraturan yang ada, di suruh membayar bea Bait Allah Ia membayar, di suruh bayar pajak kepada Kaisar Ia bayar, Ia sama sekali tidak melarang dan melawan, namun Ia memberikan contoh kepada para muridNya agar taat pada peraturan yang ada dan terlebih taat pada Kristus. Di kampus kita ada banyak sekali peraturan yang dibuat, tentunya maksudnya baik untuk menolong kita agar kita dapat dibentuk di tempat ini. terus terang saja saudara, pergumulan yang berat untuk saya dapat menaati peraturan di tempat ini.hidup hampir 20 thun di luar rumah, tanpa didikan dari orang tua, hidup bebas sehingga itulah yang membuat saya bergumul menaati peraturan di tempat ini. sehingga sering sekali kalau teman-teman liat saya sering terlambat makan, namun saya tetap menerima hukumannya yaitu kurve. Saya tahu jika saya melanggar berarti saya siap menerima konsekuensinya.demikian juga dengan kita, selama kita di sini taatlah pada peraturan sebab itu akan menolong kita di dalam pelayanan nanti, mungkin saat ini tidak kita rasakan namun, kita akan rasakan ketika kita keluar dari kampus ini. penyesalan biasanya datang setelah terjadi, saya harap kita tidak seperti itu. saudaraku akan terasa bangga jika kita lulus bukan hanya nilai yang kita dapat, tapi juga dengan kebanggaan jika kita dapat lulus di tempat ini dengan menaati atau taat pada peraturan yang ada. Berat memang, tapi itulah seperti mata kuliah, jika kita sungguh2 maka kita akan mendapat nilai yang bagus, demikian juga dengan ketaatan kita, jika kita sungguh2 maka kita akan berhasil dan memiliki karakter yang baik. Selamat berjuang. Soli Deo Gloria. Amin

Senin, 18 Februari 2013

menjadi garam dan terang Matius 5:13-16



Tema  : Menjadi Garam dan Terang di dunia
Teks    : Matius 5: 13-16

Pendahuluan
            Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus, sebelum membahas ayat ini, saya ingin bertanya kepada kita semua dan biarlah pertanyaan ini menjadi perenungan bagi kita dalam kita merenunkan firman Tuhan pada saat ini.pertanyaannya adalah; apakah tujuan utama hidup dari orang Kristen (orang yang telah percaya kepada Tuhan Yesus) di dunia ini?.... Apakah menjadi orang yang sukses, yang mendapatkan kedudukan dan jabatan yang tinggi serta memiliki harta yang melimpah, atau dapat membangun suatu bangunan yang megah yang dapat dikenang dan dipuji oleh setiap orang, atau  mendapatkan titel  atau gelar yang setinggi-tingginya ???. Saudara –saudari, tidak salah kalau kita dapat melakukan hal-hal seperti itu. Namun jika itu yang menjadi tujuan hidup yang utama dari setiap orang percaya, maka saya yakin hidup seperti itu tidak ada maknanya sama sekali bahkan itu boleh dikatakan menjadi sia-sia. Jadi pertanyaan selanjutnya adalah apakah tujuan utama dari hidup manusia di dunia ini, sehingga hidup  itu menjadi bermakna dan bernilai kekal di dunia ini?....jawabannya adalah hidup ini akan menjadi bermakna dan bernilai kekal jika saudara-saudari dapat menjadi garam dan terang di dunia ini. Oleh karena itu, tema perenungan firman Tuhan pada saat ini adalah “menjadi garam dan terang di dunia ini”.
Isi
            Saudara-saudari,  di dalam ayat ini, kata pertama yang digunakan ialah kata ‘Kamu’, yang menunjuk kepada para pengikutnya yang pada saat itu mendengarkan tentang khotbahNya di Bukit. Dalam hal ini kata kamu dikaitkan dengan garam dunia “ Kamu adalah garam dunia”. Dengan mengatakan bahwa ‘kamu adalah garam dunia’ menunjukkan bahwa Tuhan Yesus memberikan pujian serta penghargaan yang terbesar bagi setiap orang yang percaya kepadaNya dan sekaligus ingin menunjukkan bagaimana peranan orang percaya itu, yaitu kamu di dunia ini dapat menjadi garam. Dalam istilah menjadi garam, bukan berarti kita adalah garam yang sesungguhnya. Namun yang menjadi pertannyaan bagi kita, adalah kenapa Tuhan Yesus mengatakan bahwa kamu adalah garam?...  bukankah garam itu rasanya asin, yang biasanya digunakan untuk masak atau juga sebagai pengawet makanan khususnya daging pada saat itu?... ternyata tepat, sesuai dengan fungsinya garam itu pada jaman dahulu begitu sangat dibutuhkan oleh setiap orang, bahkan sampai sekarang pun garam itu menjadi hal yang penting untuk digunakan khususnya oleh kaum ibu, untuk di dapur. Fungsi utama dari garam itu ialah sebagai penyedap rasa dalam masakan. Tanpa garam maka,  makanan yang dimasak akan terasa hambar atau tidak menjadi sedap untuk dimakan, selain itu, garam pun sangat berfunsi untuk mengawetkan makanan, misalnya daging atau ikan, pada saat itu memang belum ada kulkas untuk mengawetkan makanan sehingga garam sangat bermanfaat untuk mengawetkan daging dan ikan, karena jika tidak di taruh garam, maka daging itu akan menjadi busuk.
            Dalam metafora ini Tuhan Yesus menggambarkan bahwa dalam mengikut Dia, maka kamu yang adalah orang percaya haruslah menjadi seperti garam, menjadi seperti garam sesuai dengan fungsi dari garam itu, yaitu dapat memberi rasa kepada dunia yang tawar ini serta dapat meresap didunia ini sehingga dunia ini tidak menjadi busuk oleh kejahatannya.
            Kemudian selain menjadi garam, “kamu adalah terang”. Rumah-rumah di Palestina, tempat Yesus pada saat itu mengajar, semua rumah sangat gelap, karena biasanya hanya mempunyai satu jendela kecil dengan garis tengah kira-kira 30-40 cm saja. Pelita yang dipakai di rumah-rumah itu berbentuk seperti perahu kecil yang diisi minyak, dengan sumbu yang terapung. Biasanya pelita itu ditempatkan pada sebuah tiang kecil (dian), yang terbuat dari potongan dahan kayu. Dengan demikian maka pelita itu akan terlihat. Jelaslah bahwa fungsi utama dari pelita itu ialah untuk dapat dilihat dan dapat menyinari kegelapan sehingga menjadi terang. gambaran tentang pelita inilah yang di ambil oleh Yesus dalam hal Dia mengajarkan tentang peran dari setiap pengikutnya.
 Saudaraku pengunkapan tentang terang mengunkapkan hakekat terbesar dari diri setiap orang percaya/pengikutNya. Mengapa? Karena di situ Yesus memerintahkan agar orang percaya menjadi sesuatu yang sebenarnya merupakan hakekat Yesus sendiri. Yesus adalah terang, dan orang percaya/ pengikutNya diperintahkan untuk menjadi terang itu. Yesus mengatakan “selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia” (Yoh 9:5). Kalau Yesus memerintahkan agar para pengikutnya menjadi terang dunia, maka Ia sebenarnya memerintahkan agar mereka menjadi sama dengan diri Yesus sendiri yang adalah terang itu.
           
Jemaat yang terkasih, kedua gambaran ini menunjukkan peran dari setiap orang percaya di dunia ini. Sebagai orang percaya kita harus meresap kedalam masyarakat disekitar kita bahkan yang tidak seiman dengan kita. Kendati secara rohani dan moral berbeda, kita tidak boleh terpisah secara sosial. Sebaliknya “hendaklah terangmu bercahaya”. Artinya, biarkan teranmu merasuki kegelapan itu. Yesus melanjutkan, jangan menyalahkan pelita dan meletakkannya di bawah tempat tidurmu atau pada lemari yang gelap. Sebaliknya letakkan pelitamu pada kaki dian dan biarkan terangnya bercahaya keluar. Dengan kata lain, biarlah kabar baik tentang Yesus Kristus, yang adalah terang dunia, menyebar keseluruh masyarakat, dengan perkataan maupun dengan perbuatan anda yang baik. Serupa dengan itu, garam juga harus meresapi daging. Pelita tak berguna jika disimpan di dalam lemari, dan garam tak berguna jika masih berada di wadahnya. Terang harus bercahaya bagi kegelapan dan garam harus meresap ke dalam daging. Kedua model ini menggambarkan proses penetrasi dan mengundang kita untuk meresapi masyarakat. Namun masih banyak di antara kita yang bersembunyi dalam lemari kecil kita yang gelap dan tinggal diam di dalam wadah garam kecil dan yang cantik yang kita sebut gereja.
Aplikasi.
            Saudaraku Kekristenan itu tidak boleh terlihat hanya di dalam gereja. Kekristenan yang pengaruhnya yang hanya terasa di dalam gereja tidaklah bermanfaat. Kekristenan seharusnya terlihat nyata di dalam kehidupan sehari-hari di dunia ini. Kekristenan kita haruslah nampak  di dalam cara kita memperlakukan para penjual sayur di pasar, cara kita berbelanja jangan dengan sikap yang sombong dan ankuh, cara kita memperlakukan bawahan kita atau atasan kita, cara kita bergaul setiap hari, cara kita berbicara, hilangilah kata-kata kotor. Kekristenan yang nampak haruslah sama dengan kekristenan yang dinampakkan di tempat kerja, di sekolahan, di pasar, di lingkungan pergaulan kita, di dunia bisnis bahkan di dalam keluarga kita serta dimana saja kita berada. Tuhan Yesus tidak mengatakan bahwa kamu adalah terang gereja dan garam gereja, melainkan Ia mengatakan bahwa “kamu adalah terang dan garam dunia”. Karena itu di dalam kehidupan orang Kristen haruslah nampak jelas dan dapat dilihat oleh semua orang.  Seorang teolog besar (John Stott) berkata; “ jangan bertanya kenapa dunia ini semakin gelap, tetapi bertanyalah dimanakah terangnya, jangan bertanya kenapa dunia ini semakin busuk tetapi bertanyalah dimanakah garamnya”.  Jika masyarakat di sekitar kita melakukan korupsi, kejahatan yang semakin meningkat  bahkan pertikaian yang tiada habisnya di lingkungan kita, Bahkan di negara kita, tidak masuk akal untuk menyalahkan masyarakat yang melakukan itu. Pertanyaan yang harus diajukan ialah di manakah gereja?...dimanakah garam dan terang Yesus?. Sungguh munafik untuk mengankat alis dan bahu kita, seolah-olah itu semua bukan tanggung jawab kita. Padahal jelas sekali, Yesus meminta kita menjadi garam dan terang bagi masyarakat dimana kita berada. Karena itu jika kegelapan dan kebusukan berkembang disekitar kita, sebagian besar adalah akibat kesalahan kita, dan kita harus mengakui kesalahan itu. Oleh karena itu, menjadi garam dan terang merupakan bagian utama dari hidup setiap orang percaya, sebab jika kita tidak menjadi garam dan terang bagi dunia ini, maka sia-sialah hidup kita di dunia ini. Melalui perenungan ini biarlah kita sebagai orang percaya yang hidup di dunia yang membutuhkan garam dan terang dari kita, biarlah kita dapat melakukannya selama kita hidup di dunia ini, sehingga dengan menjadi garam dan terang, nama Tuhan Yesus dipermuliakan melalui kita. Selamat menjadi garam dan terang dunia dimana saudara berada . Soli Deo Gloria

           
           


Rabu, 28 November 2012

Bahasa Roh



Studi Kontekstualisasi tentang Bahasa Roh
(JHON MUSA RENDHOARD)

Pendahuluan
            Bahasa Roh merupakan topik yang hangat sampai saat ini, tidak herang banyak para teolog yang sampai saat ini bergumul untuk menjawab apakah konsep Bahasa roh ini masih relevan sampai sekarang? Bahkan bukan hanya para teolog, ,melainkan semua jemaat pun diperhadapkan dengan konsep ini . Namun pertanyaannya ialah apakah penafsiran ‘bahasa roh’ merupakan penafisran yang tepat? Dan jika itu benar, apakah masih relevan kata itu digunakan di dalam peribadahan umat dan juga menjadi tanda pertumbuhan iman seseorang.
Pembahasan
1.1.Terminologi
        Di dalam Bahasa Yunani, Bahasa Roh ialah  [1]  glw,ssh|| (glosse/ glosolali), beberapa terjemahan  menyebutnya ialah bahasa lidah, diantaranya; NRS ‘in a tongue” (Bahasa Lidah), RSV ‘in a tongue (Bahasa lidah), BGT  glw,ssh|| ‘ (bahasa lidah) dan GNT ‘  glw,ssh||’ (bahasa lidah), hanya terjemahan LAI yang menerjemahkan bahasa roh dan bahasa lain dan BIS yang menggunakan bahasa ajaib.
Di dalam terjemahan yang asli dari bahasa Yunani, ialah glw,ssh|| , terjemahan yang asli mengartikan kata Glosseh/glosolali ini ialah bahasa lidah, bukan bahasa Roh yang dimengerti oleh kita sampai saat ini. kata glosseh ini muncul di Perjanjian Baru sebanyak 47 kata, sedangkang di kitab surat Korintus muncul sebanyak 19 kali dan di dalam Kisah Para Rasul kata ini muncul sebanyak 6 kali, dan sisanya di dalam kitab-kitab yang lainnya di dalam Perjanjian Baru. Di dalam surat Korintus kata ini muncul  sebagai bukti tentang salah satu karunia (1 Kor 14) dan di dalam Kisah Para Rasul kata ini muncul pada saat hari Pentakosta. Artinya di dalam 2 peristiwa penting tadi dari kedua kitab itu, memberikan suatu alasan penafsiran untuk menggunakan kata itu sebagai bagian dari peribadahan dan bukti ‘telah dipenuhi roh’ oleh kalangan tertentu. 

1.2. Bahasa Roh di Dalam kitab Kisah Para Rasul
Di dalam Kisah Para Rasul, kata ini muncul pada saat peristiwa yang begitu penting terjadi, yaitu pada saat turunnya pencurahan Roh Kudus, kepada para murid dalam bentuk seperti lidah-lidah api, atau yang disebut sebagai hari Pentakosta. Hari ini terjadi setelah 50 hari kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus. Peristiwa ini terjadi pada saat para murid sedang berkumpul,mereka berkumpul untuk bertekung di dalam doa (1 kis 1:14),  setelah mereka memilih Matias sebagai pengganti Yudas (ayt  26) kemudian berkumpulah mereka, pada saat itu adalah hari dimana seluruh umat datang untuk merayakan hari Pentakosta (Pesta Pertanian) dan disitulah terjadi peristiwa para murid semua dipenuhi oleh Roh, sehingga mereka tampil membritakan Kasih Kristus kepada  semua orang dari bangsa-bangsa yang berbeda. Yang menjadi sorotan di dalam teks ini ialah para murid dapat berbicara sesuai dengan bahasa dari bangsa-bangsa yang berkumpul pada saat itu (ayt 6). Dari penjelasan ayat ini, jelas sekali diketahui bahwa para murid itu berkata-kata dengan memakai bahasa bangsa-bangsa, jadi bukan berkata-kata dalam bahasa Roh.             Dan juga hal ini berati, “tidak mungkin kita menyimpulkan bahwa pengalaman para murid harus menjadi pengalaman kita juga pada masa kini. Pengalaman mereka bersifat unik karena mereka hidup dalam masa transisi dari Perjanjian Lama ke Perjanjian Baru. Pengalaman mereka hanya terjadi satu kali dan tidak menjadi pola bagi kita untuk masa kini. Sebab masuknya mereka ke dalam kepenuhan Roh Kudus terjadi dalam dua tahap yang berbeda: mencerminkan sebuah pola kesinambungan dengan kita (Roh yang sama), dan pola ketidaksambungan dengan kita (hanya dalam Pentakosta, Roh Kudus datang dalam tugas dan pelayanan-Nya sebagai Roh Kristus yang dimuliakan). Pola demikian didasarkan atas munculnya zaman baru dari zaman lama. Jadi terdapat keistimewaan dalam pengalaman murid-murid, sama seperti pengalaman mereka bersama Yesus”[2]. Jadi dengan demikian bahasa lidah yang di katakan di dalam teks ini merupakan pengalaman sekali yang dirasakan oleh para murid pada saat itu dan kita tidak mungkin bisa seperti mereka, sebab kita tidak hidup di jaman seperti itu, sehingga itu menjadi sejarah bagi kita untuk melihat karya Kristus bagi para murid yang memiliki kesempatan langsung merasakan dan hidup bersama dengan Kristus.

1.3. Bahasa Roh di Dalam kitab Surat Korintus
Dalam surat Paulus kepada jemaat di Korintus, Paulus lebih diteil lagi menjelaskan tentang bahasa Roh itu, dan untuk apa saja bahasa Roh itu digunakan. Dalam hal ini, bahasa Roh itu masuk di dalam salah satu urutan karunia-karunia Roh (1 Kor 14: 1-25 ). Artinya Paulus mengakui bahwa bahasa Roh juga merupakan karunia yang Tuhan berikan. Namun di dalam teks ini, menyatakan bahwa karunia itu hanya digunakan secara pribadi untuk membangun diri sendiri (ayt 4), sebab di dalam ayat yang sebelumnya menjelaskan bahwa bahasa itu tidak akan dimengerti oleh orang lain, sehingga hanya ditujukan kepada pribadi-pribadi sendiri, dan menurut Paulus tidak diperkenankan untuk memakai bahasa itu di dalam persekutuan dengan jemaat,sebab jika itu dipakai dalam persekutuan dengan jemaat maka akan menjadi batu sandungan bagi jemaat yang baru (ayt 23).
1.4.Bahasa Roh dalam Konteks Masa Kini
Di dalam perkembangannya, ‘bahasa roh’ seperti yang sekarang ini menjadi suatu tren  gaya hidup  kerohanian bagi kalangan tertentu, bahasa roh kini bahkan telah menjadi suatu tanda yang menunjukkan tingkat kedewasaan kerohanian seseorang, seperti dikatakan oleh “Dr.Peter Master, di dalam bukunya “ Bahasa Lidah di lingkungan Kharismatik sebagian besar adalah untuk keuntungan pribadi. Hal itu diinginkan sebagai sebuah tanda pribadi, demi nilai-nilai rohani, emosional dan eksatis di dalam penyembahan pribadi”[3]. Oleh karena itu, di dalam kalangan tertentu bahasa roh menjadi hal yang penting bagi pertumbuhan kerohanian seseorang. Namun di dalam perkembangannya, bahasa lidah ini bukan hanya menjadi gaya hidup bagi seseorang di dalam persekutuan pribadinya dengan Tuhan, malah dipergunakan untuk persektuan yang jumlahnya sangat banyak, seperti di dalam ibadah-ibadah dan juga di persekutuan-persekutuan yang jumlahnya sangat banyak. Namun menurut  Dr. J.L. Abineno “ Menurut saya ini: Bahwa dalam pertemuan umum atau ibadah berkata-kata (memuji, berdoa) dengan akal-budi, artinya dengan bahasa yang dimmengerti orang itu lebih tinggii (lebih berguna) daripada berkata-kata (berdoa, memuji) dengan roh, artinya dengan bahasa yang tidak dimengerti semua orang. Lebih tinggi dalam arti relatif, sama seperti nubuat “lebih tinggi” dari glosolali. Karena itu bahasa-roh, yang dipakai dalam pertemuan-pertemuan umum, harus ditafsirkan. Sebab hanya dengan jalan demikian ia bisa bergunna bagi anggota-anggota Jemaat. Artinya: bisa membangun hidup mereka dan hidup jemaat[4]. Dalam hal ini, ia menyetujui adanya penggunaan bahasa lidah, asalkan menurutnya itu dapat dipakai dengan tepat, yaitu jika seorang diri dengan hubungannya dengan Tuhan, namun jika dengan jemaat itu bukanlah sikap yang baik. Seperti juga yang dikatakan oleh Donal Brige dan David Phypers yang menyatakan bahwa “ Nilai utama daripada karunia untuk berbicara dengan bahasa roh terletak dalam penggunaannya secara pribadi untuk membangun orang-orang perseorangan (14:2,4,14). Di dalam jemaat, karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh tidak bermanfaat kecuali kalau disertai dengan tafsirannya (14:5)[5]”. Dengan kata lain, mereka sama-sama mendukung penggunaan bahasa roh atau bahasa lidah, asalkan penggunaan itu menurut mereka haruslah digunakan secara pribadi, bukan digunakan pada saat perkumpulan jemaat.
Dalam hal ini, penulis  pun sependapat dengan kedua teolog ini, bahwa penggunaan bahasa roh bukanlah suatu hal yang penting dalam peribadahan yang saat ini di gunakan dan diterapkan oleh beberapa gereja sampai saat ini, bahkan bahasa lidah yang sekarang ini bukan lagi digunakan untuk membangun dirinya, malah hanya sebagai sebuah formalitas untuk mengukur seseorang itu sudah memiliki Roh Kudus atau belum, tentu ini adalah hal yang keliru, bahasa lidah bukanlah tanda bahwa seseorang itu telah dipenuhi Roh Kudus atau belum, tetapi seperti dijelaskan diatas digunakan hanya untuk pertumbuhan pribadinya dengan Tuhan. Artinya bahwa bahasa lidah bukanlah suatu syarat bagi setiap orang yang ingin dipenuhi oleh Roh Kudus, melainkan suatu ritual bagi persekutuan seseorang dengan Tuhan, sebab hanya dia yang mengerti isi hatinya di dalam kata-kata itu kepada Tuhan.



[1] Bible Works, GNT, BGT, NRS, RSV, LAI dan BIS
[2] Sumber: Majalah MOMENTUM No. 40 - Juli 1999, tulisan Sinclair B. Fergusson


[3] Dr. Peter Masters & Prof. John C Whitcomb, Fenomena Kharismatik, Jakarta: (Terj) Yayasan Misi Remaja Indonesia . hal 44
[4] Dr. J. L. CH. Abineno, Karunia-karunia Roh Kudus, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1980, hal 23
[5] Donald Bridge & David Phypers, Karunia-karunia Roh dan Jemaat, Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1999. Hal  81

Tafsiran Kitab Amsal



Tafsiran Kitab Amsal 28 : 1-28
(JHON MUSA RENDHOARD)
Latar Belakang Naratif
Sang guru hikmat dalam hal ini mengajarkan bahwa salah satu hal yang  penting untuk menjalankan suatu pemerintahan yang baik adalah aturan main atau hukum yang jelas dan adil. Oleh karena itu untuk menerapkan hukum yang mengatur segala sesuatu pada tempatnya dibutuhkan orang yang takut akan Tuhan, tak mencari kepentingan diri sendiri, dan berdedikasi tinggi serta peduli terhadap kesejahteraan rakyat.

Alur Pembicaraan
Perbedaan orang fasik dan orang benar
1 Orang fasik lari, walaupun tidak ada yang mengejarnya, tetapi orang benar merasa aman seperti singa muda.
2 Karena pemberontakan negeri banyaklah penguasa-penguasanya, tetapi karena orang yang berpengertian dan berpengetahuan tetaplah hukum.
4 Orang yang mengabaikan hukum memuji orang fasik, tetapi orang yang berpegang pada hukum menentangnya
6 Lebih baik orang miskin yang bersih kelakuannya dari pada orang yang berliku-liku jalannya, sekalipun ia kaya.
7 Orang yang memelihara hukum adalah anak yang berpengertian, tetapi orang yang bergaul dengan pelahap mempermalukan ayahnya.
10 Siapa menyesatkan orang jujur ke jalan yang jahat akan jatuh ke dalam lobangnya sendiri, tetapi orang-orang yang tak bercela akan mewarisi kebahagiaan.
11 Orang kaya menganggap dirinya bijak, tetapi orang miskin yang berpengertian mengenal dia.
12 Jika orang benar menang, banyaklah pujian orang, tetapi jika orang fasik mendapat kekuasaan, orang menyembunyikan diri.
16 Seorang pemimpin yang tidak mempunyai pengertian keras penindasannya, tetapi orang yang membenci laba yang tidak halal, memperpanjang umurnya.
18 Siapa berlaku tidak bercela akan diselamatkan, tetapi siapa berliku-liku jalannya akan jatuh ke dalam lobang.
19 Siapa mengerjakan tanahnya akan kenyang dengan makanan, tetapi siapa mengejar barang yang sia-sia akan kenyang dengan kemiskinan.
20 Orang yang dapat dipercaya mendapat banyak berkat, tetapi orang yang ingin cepat menjadi kaya, tidak akan luput dari hukuman.
21 Memandang bulu tidaklah baik, tetapi untuk sekerat roti orang membuat pelanggaran.
26 Siapa percaya kepada hatinya sendiri adalah orang bebal, tetapi siapa berlaku dengan bijak akan selamat.
27 Siapa memberi kepada orang miskin tak akan berkekurangan, tetapi orang yang menutup matanya akan sangat dikutuki.

28 Jika orang fasik mendapat kekuasaan, orang menyembunyikan diri, tetapi jika mereka binasa, bertambahlah jumlah orang benar.

Ciri Orang benar dan yang takut akan Tuhan
5 Orang yang jahat tidak mengerti keadilan, tetapi orang yang mencari TUHAN mengerti segala sesuatu.
 8 Orang yang memperbanyak hartanya dengan riba dan bunga uang, mengumpulkan itu untuk orang-orang yang mempunyai belas kasihan kepada orang-orang lemah.
13 Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi.
14 Berbahagialah orang yang senantiasa takut akan TUHAN, tetapi orang yang mengeraskan hatinya akan jatuh ke dalam malapetaka.
23 Siapa menegur orang akan kemudian lebih disayangi dari pada orang yang menjilat.
25 Orang yang loba, menimbulkan pertengkaran, tetapi siapa percaya kepada TUHAN, diberi kelimpahan.

Ciri Orang Jahat/Fasik
3 Orang miskin yang menindas orang-orang yang lemah adalah seperti hujan deras, tetapi tidak memberi makanan.
9 Siapa memalingkan telinganya untuk tidak mendengarkan hukum, juga doanya adalah kekejian.
15 Seperti singa yang meraung atau beruang yang menyerbu, demikianlah orang fasik yang memerintah rakyat yang lemah.
17 Orang yang menanggung darah orang lain akan lari sampai ke liang kubur. Janganlah engkau menahannya!
22 Orang yang kikir tergesa-gesa mengejar harta, dan tidak mengetahui bahwa ia akan mengalami kekurangan.
24 Siapa merampasi ayah dan ibunya dan menyangka bahwa itu bukan suatu pelanggaran, ia sendiri adalah kawan si perusak.

Pengarang
Pengaran dari ajaran hikmat ini adalah sang guru hikmat yang mengajarkan tentang bagaimana orang yang benar yang takut akan Tuhan dalam hukum yang adil kepada rakyatnya dan juga pemimpin yang tidak korup dan yang fasik yang juga dalam pemerintahan yang buruk dan tidak menaati hukum., dan juga pengajaran kepada para muridnya agar mereka taat kepada hukum yang berlaku tidak seperti orang fasik yang melanggar hukum.
Pendengar
            Pendengar dari ajaran di dalam teks ini ialah para murid dari sang guru hikmat, mereka di ajarkan agar menjadi pemimpin yang baik dan yang takut akan Tuhan serta dapat menegakkan hukum dan tidak berlaku seperti orang fasik yang hidup dalam keburukan dan tidak taat kepada hukum.
Ponit of View
             Persoalan yang diangkat oleh Amsal ini melalui sang guru hikmat  adalah pribadi di balik penerapan hukum tersebut. Pribadi yang jahat mengakibatkan rakyat tertindas. Biasanya pribadi jahat berpihak kepada orang kaya sehingga membelokkan hukum untuk kepentingan segelintir orang saja. Tetapi Amsal ini mengingatkan juga bahwa orang miskin pun bisa saja menjadi pelaku-pelaku curang dari hukum. Ini bukan sekadar masalah situasional miskin-kaya melainkan masalah  dalam menyikapi hidup. Amsal juga mengingatkan bahwa upaya jahat tidak akan membawakan hasil yang permanen karena di dalam kedaulatan Tuhan, justru orang-orang yang mempertahankan kejujuran dan kebenaran yang akan dapat menikmati hidup ini.
Kata-kata Kunci
-           [v'_r" (rasah)              =  jahat, atau orang jahat, orang yang tidak peduli akan perintah Tuhan
-           ] dygI©n" ((nagid)            = pemimpin
-          hr"At (torah)              = Hukum, hukum Tuhan
Tafsiran
1 Orang fasik lari, walaupun tidak ada yang mengejarnya, tetapi orang benar merasa aman seperti singa muda.
Sang guru hikmat mengawali pengajarannya dengan menjelaskan bahwa rasa bersalah akibat kehajatan yang di buat oleh orang jahat, akan terus membayanginya, namun jika orang yang hidup baik dan benar tidaklah dibayangi oleh bayangan yang buruk, melainkan ia akan merasa aman dan damai dalam hidupnya
2 Karena pemberontakan negeri banyaklah penguasa-penguasanya, tetapi karena orang yang berpengertian dan berpengetahuan tetaplah hukum.
Selanjutnya dalam ayat ini digambarkan dampak dari  tidaknya  menaati hukum yang ada di dalam pemerintahan tersebut  sehingga pemerintahan yang dipimpin menjadi terpecah-pecah, sang guru hikmat menyatakan bahwa yang dikatakan bahwa orang yang berpengertian dan berpengetahuan itu adalah mereka yang taat kepada hukum.
3 Orang miskin yang menindas orang-orang yang lemah adalah seperti hujan deras, tetapi tidak memberi makanan.
Ternyata di dalam teks ini sang guru hikmat mengatakan  bahwa kemiskinan juga bisa menindas orang-orang yang lemah, bahkan bisa dibilang lebih kejam
4 Orang yang mengabaikan hukum memuji orang fasik, tetapi orang yang berpegang pada hukum menentangnya.
Selanjutnya sang guru hikmat menjelaskan bahwa orang yang jahat dan yang tidak peduli kepada hukum yang sering melanggar hukum memuji juga orang fasik yang juga sama dengan orang yang jahat di sini sang guru hikmat membandingkan dengan orang yang berpegang pada hukum yang menentang orang-orang seperti itu.
5 Orang yang jahat tidak mengerti keadilan, tetapi orang yang mencari TUHAN mengerti segala sesuatu.
Perbuatan yang baik dan benar berupa keadilanpun orang jahat tidak mengertinya, sehingga yang dilakukannya adalah perbuatan yang jahat, sebab menurut sang guru hikmat orang jahat tidak mengerti akan keadilan, sang guru hikmat mengajarkan bahwa orang selalu dekat dengan Tuhan, yaitu mereka yang selalu mencari Tuhan, ia akan mengerti dan bagaimana bersikap adil dalam menegagkan keadilan, sebab ia dekat dengan Sang sumber yang adil yaitu Tuhan.
6 Lebih baik orang miskin yang bersih kelakuannya dari pada orang yang berliku-liku jalannya, sekalipun ia kaya.
Selanjutnya sang guru hikmat mengkontraskan antara yang kaya dengan yang miskin, ia mengajarkan bahwa lebih baik seperti orang miskin yang bersih kelakuannya artinya jujur,adil dan sebagainya dari pada seperti orang yang kaya yang tidak baik jalannyanya, seperti menghasilkan kekayaannya dengan perbuatan yang jahat dan sebagainya.
7 Orang yang memelihara hukum adalah anak yang berpengertian, tetapi orang yang bergaul dengan pelahap mempermalukan ayahnya.
Dalam hal ini sang guru hikmat mengajarkan tentang gambaran seorang anak yang dinasehati agar memegang hukum dan tidak bersahabat dengan pelahap. Bersahabat dengan pelahap adalah sebuah pilihan yang bodoh menurut sang guru hikmat, sebab pelahap dapat disamakan dengan pemabuk, pemalas, dan orang bodoh yang menjadi miskin karena malas, anak yang bergaul dengan orang-orang sedemikian segera akan menjadi seperti mereka, sehingga mempermalukan ayahnya dan ajarannya.
8 Orang yang memperbanyak hartanya dengan riba dan bunga uang, mengumpulkan itu untuk orang-orang yang mempunyai belas kasihan kepada orang-orang lemah.
Dalam ayat ini, hal tentang riba itu diperbolehkan menurut sang guru hikmat, sebab hasil dari riba itu dipergunakan bukan untuk kepentingan atau keuntungan bagi diri sendiri, melainkan hasil dari riba itu dipergunakan untuk menolong orang lain yang lemah dan tertindas. Jadi dalam hal ini menurut sang guru hikmat itu baik di lakukan bagi orang yang mau memberi kepada yang berkekurangan
9 Siapa memalingkan telinganya untuk tidak mendengarkan hukum, juga doanya adalah kekejian.
Mendengar berarti menaati. Sang guru hikmat mengajarkan pada bagian ini bahwa kalau kita tidak mendengar atau tidak menaati Tuhan atau juga hukum-hukum-Nya, maka Ia tidak akan mendengarkan doa kita. Sebab orang yang demikian adalah jahat dimata Tuhan dan itu merupakan kekejian.
10 Siapa menyesatkan orang jujur ke jalan yang jahat akan jatuh ke dalam lobangnya sendiri, tetapi orang-orang yang tak bercela akan mewarisi kebahagiaan.
Sang guru hikmat di dalam ayat ini menjelaskan bahwa orang-orang menjerat orang jujur ke jalan yang jahat akan jatuh sendiri ke dalam jerat. Berbuat jahat sudah buruk, tetapi mendorong orang lain untuk berbuat jahat adalah menjijikan sehingga orang itu akan menuai hukuman. Orang-orang yang tidak bersalah tidak akan dihukum seperti orang jahat, melainkan mereka akan mewarisi kebajikan menurut sang guru hikmat.
11 Orang kaya menganggap dirinya bijak, tetapi orang miskin yang berpengertian mengenal dia.
Gambaran dalam hidup orang kaya menurut sang guru hikmat ialah mereka akan menganggap diri mereka bijak karena status mereka dan kekayaan yang mereka miliki, namun sang guru hikmat melihat bahwa orang miskin memiliki pengertian untuk mengenal diri mereka.
12 Jika orang benar menang, banyaklah pujian orang, tetapi jika orang fasik mendapat kekuasaan,
orang menyembunyikan diri.
Sang guru hikmat dalam ayat ini membicarakan kegirangan yang menyertai kemenangan orang benar dibandingkan dengan ketakutan yang timbul bila orang jahat berkuasa. Adalah sebuah berkat bagi sebuah negara bila pemerintahan negara itu kuat, stabil dan dikendalikan oleh pemimpin-pemimpin yang jujur .
13 Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi.
Amsal dalam ayat ini yang di ajarkan oleh sang guru hikmat ialah bahwa  beberapa orang berpikir bahwa orang-orang berdosa yang melanggar hukum selalu menang, sedangkan orang-orang benar yang memegang hukum selalu kalah. Namum sang guru hikmat mengatakan bahwa kalau anda mau berhasil dalam hidup, maka anda harus memegang peraturan.
14 Berbahagialah orang yang senantiasa takut akan TUHAN, tetapi orang yang mengeraskan hatinya akan jatuh ke dalam malapetaka.
Selanjutnya dalam ayat ini sang guru hikmat mengajarkan hal yang penting bahwa berbahagiialah orang yang senantiasa takut akan Tuhan, kebalikan dari itu ialah bahwa orang yang mengeras hati kepada Tuhan dan hukumnya akan jatuh dalam malapetaka yang menjadi upahnya.
15 Seperti singa yang meraung atau beruang yang menyerbu, demikianlah orang fasik yang memerintah rakyat yang lemah.
Gambaran dari hewan-hewan yang kejam ini yang di angkat oleh sang guru hikmat ingin memperlihatkan atau menyamakan dengan para pemimpin-pemimpin yang jahat dan kejam di dalam pemerintahannya kepada orang lemah.
16 Seorang pemimpin yang tidak mempunyai pengertian keras penindasannya, tetapi orang yang membenci laba yang tidak halal, memperpanjang umurnya.
Ayat ini juga menjelaskan tentang tentang teguran kepada pemimpin yang lalim yang tidak mempunyai pengertian  dan memuji pemerintah yang membenci laba yang tidak halal. Pemerintah yang demikian pertama kurang pengertian tetapi kejam, sedangkan pemerintah kedua memiliki pengertian dan memerintah dengan lama.
17 Orang yang menanggung darah orang lain akan lari sampai ke liang kubur. Janganlah engkau menahannya!
Dalam ayat ini sang guru hikmat mengajarkan bahwa orang ini adalah seorang pembunuh yang dihantui oleh hati nuraninya yang bersalah sehingga ia berusaha membunuh diri sendiri. Mungkin sang guru hikmat dalam ayat ini ingin mengajarkan bahwa kita jangan ikut campur tangan dengan hukuman yang disebabkan oleh orang itu sendiri
18 Siapa berlaku tidak bercela akan diselamatkan, tetapi siapa berliku-liku jalannya akan jatuh ke dalam lobang.
           
19 Siapa mengerjakan tanahnya akan kenyang dengan makanan, tetapi siapa mengejar barang yang sia-sia akan kenyang dengan kemiskinan.
Sang guru hikmat dalam hal ini mengajarkan bahwa orang yang rajin dan giat akan memperoleh hasil yang baik untuk dinikmatinya sedangkan bagi yang malas tidak akan memperoleh apa-apa.
20 Orang yang dapat dipercaya mendapat banyak berkat, tetapi orang yang ingin cepat menjadi kaya, tidak akan luput dari hukuman.
Lebih baik menjadi orang yang dapat dipercaya menurut sang guru hikmat dari pada orang yang ingin menjadi kaya namun mencari jalan yang jahat akan memperoleh hukumannya
21 Memandang bulu tidaklah baik, tetapi untuk sekerat roti orang membuat pelanggaran.
Sang guru hikmat dalam hal ini mengajarkan bahwa orang yang memandang oaranglain tidaklah baik dan juga jika ia menerima suap atau melakukan pelanggaran akan memperoleh hukuman
22 Orang yang kikir tergesa-gesa mengejar harta, dan tidak mengetahui bahwa ia akan mengalami kekurangan.
Sang guru hikmat dalam hal ini mengajarkan bahwa orang yang terburu-buru dalam mengejar harta maka ia tidak menyadari dirinya berkekurangan, sehingga dalam usahanya mengejar harta ia akan melakukan segala macam cara agar mendapatkan harta yang diinginkannya
23 Siapa menegur orang akan kemudian lebih disayangi dari pada orang yang menjilat.
Sang guru hikmat dalam hal ini mengajarkan bahwa lebih baik menegur walaupun itu memang menyakitkan dari pada mendiamkan kesalahan orang lain dan mengganggap bahwa tidak ada kesalahan seperti orang yang menjilat dikatakan bahwa menyembunyikan kesalahan dalam kebenaran itu kesalahan yang buruk.
24 Siapa merampasi ayah dan ibunya dan menyangka bahwa itu bukan suatu pelanggaran, ia sendiri adalah kawan si perusak.
Sang guru hikmat dalam hal ini mengajarkan tentang anak yang buruk dan jahat kelakuannya kepada orang tuannya, bahkan kejahatan yang dilakukannya itu dianggap bukanlah suatu kesalahan, sang guru hikmat dalam hal ini menyamakan dengan orang yang jahat kelakuannya
25 Orang yang loba, menimbulkan pertengkaran, tetapi siapa percaya kepada TUHAN, diberi kelimpahan.
Ketidaksabaran dan gosip dan sifat lekas marah menyebabkan persoalan. Sikap yang benar ialah bersandar kepada Tuhan. Pandangan yang tertuju kepada tuhan akan menolong dan menerima orang lain
26 Siapa percaya kepada hatinya sendiri adalah orang bebal, tetapi siapa berlaku dengan bijak akan selamat.
Ayat 26 mengulangi pikiran ini bahwa siapa yang bersandar kepada diri sendiri dikatan orang bebal. Seorang yang bijaksana mengetahui visinya terbatas dengan kekeliuran dosa, sebab itu ia tidak akan bersandar kepada dirinya sendiri melainkan hanya Tuhan yang dapat membantunya memberikan hikmat kepadanya
27 Siapa memberi kepada orang miskin tak akan berkekurangan, tetapi orang yang menutup matanya akan sangat dikutuki.
Sikap yang bai dalam ayat ini menurut sang guru hikmat ialah sikap yang ditunjukkan dengan orang yang suka memberi kepada orang miskin namun bagi orang yang kikir dan pelit kepda orang miskin tidaklah baik malah dikatakan jahat dan bisa dikutuki.
28 Jika orang fasik mendapat kekuasaan, orang menyembunyikan diri, tetapi jika mereka binasa, bertambahlah jumlah orang benar
Ayat 28a hampir sama dengan ayat 12b, tetapi ayat 28b berbeda dengan ayat 12a, ketika pemerintahan orang fasik berakhir, orang-orang benar keluar dari persembunyian dan memegang kendali, bahkan jumlah mereka bertambah